Evaluasi Diri

Istilah evaluasi diri akhir-akhir ini sudah menjadi makanan sehar-hari. Evaluasi diri seolah-olah makhluk baru, padahal sesungguhnya ia adalah makhluk yang sudah lama ada. Setua umur manusia, atau bahkan lebih tua lagi. Istilah lamanya barangkali instropeksi, melihat ke dalam diri secara jujur tentang kelemahan dan kelebihan diri, dan melihat dunia luar di luar diri ini. Semuanya kemudian dijadikan alat ukur untuk mengevaluasi dirinya, bisa institusi, bisa diri sendiri, dan bisa diri-diri yang lain.

Dalam Al Qur’an Surat Al-Hasyr: 18, Allah berfirman:”Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memeperhatikan apa yang telah disiapkan untuk hari esok dan takutlah kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini memerintahkan untuk mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukan untuk hari esok. Hari esok bisa besok, sebulan, setahun, dan setelah mati. Kita semua diperintahkan mengevaluasi diri apa yang kurang dalam persiapan menyongsong hari esok. Ada tidak yang salah. Jika ada bagaimana memperbaikinya. Apa perbuatan baik yang telah dilakukan. Setelah mengevaluasi dri sejujur-jujurnya, barulah kita dapat memperbaiki diri. Langkah pertama setelah kita mengetahui keadaan kita adalah bertobat atas segala dosa dan kesalahan. Lalu kita berniat untuk tidak melakukan kesalahan dan dosa tersebut atau dosa-dosa yang lain. Lalu teguhkan niat, dan kita kemudian melakukan perbaikkan.

Kita harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa amal baik yang dikerjakan adalah untuk diri sendiri, dan bahwa dosa juga sangsinya menimpa diri sendiri. Tidak kepada orang lain. Hal ini ditegaskan Allah dalam surat Fushilat: 46

Amal baik dan amal buruk ini yang harus dievaluasi. Seseorang tidak akan mencapai derajat taqwa jika ia tidak pernah mengevaluasi diri (menghisab diri) nya apa atas yang telah diperbuatnya.

Rasulullah bersabda:”Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengevaluasi diri dan beramal untuk kematiannya. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.

Umar bin Al-Khattab ra pernah mengucapkan kalimat sebagai berikut:”Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dhadapkan kepada Allah pada hari penghadapan yang besar”.

(http://uripsantoso.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s